Proposal IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI KELAS X SMA ISLAM ABHARIYAH JERNENG KECAMATAN LABUAPI LOMBOK BARATTAHUN PELAJARAN 2017/2018)




A.    (IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI KELAS X SMA ISLAM ABHARIYAH JERNENG KECAMATAN LABUAPI LOMBOK BARATTAHUN PELAJARAN 2017/2018)
B.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusian yang diemban sebagai seorang hamba, di hadapan Khaliqnya dan sebagai “pemelihara” (khalifah) pada semesta.[1]Oleh sebab itu pendidikan hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa[2], yang berarti upaya pemeliharaan manusia guna mengembangkan benih keturunan dari suatu bangsa, agar dapat berkembang dengan sehat lahir batin.[3] Melalui dunia pendidikan, manusia di harapkan mampu berkompetisi dalam berbagai bidang seiring dengan perkembangan zaman.[4] Dalam pelaksaannya pendidikan memuat berbagai unsur, diantaranya yakni pendidik atau yang biasa di kenal dengan guru, dan peserta didik atau yang biasa di kenal dengan siwa. Dalam hal ini, guru sebagai pendidik memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Guru dituntut untuk berupaya keras dalam menciptakan suasana belajar yang efektif, aktif, kreatif dan menyenangkan[5], pengelolaan kelas yang kondusif, interaksi antar guru dan peserta didik yang membangun, agar secara umumnya mampu menarik perhatian peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya.
Suatu sistem pendidikan dapat dipandang berkualitas apabila kegiatan belajar mengajar berjalan secara menarik dan menantang peserta didik dapat belajar sebanyak dan sebaik mungkin melalui proses yang berkelanjutan demi membantu anak didik menjadi manusia yang lebih utuh.[6] Proses pendidikan yang bermutu akan menghasilkan lulusan yang bermutu serta relevan dengan perkembangan zaman. Agar terwujudnya pendidikan yang bermutu dan efesien, maka perlu disusun dan dilaksanakan program-program yang mampu membelajarkan secara berkelanjutan. Karena dengan mutu pendidikan yang optimal akan menghasilkan keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang makin pesat.
Untuk dapat mencapai sebuah proses pendidikan yang berkualitas diperlukan kreasi-kreasi baru dalam pendidikan yang mampu memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Demi tercapainya itu semua salah satu cara yang ditawarkan ialah dengan penggunaan berbagai model pembelajaran, salah satunya ialah melalui ImplementasiModel PembelajaranContextual Teaching And Learning yang kemudian disingkat menjadi CTL. Model pembelajaran ini mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan semangat serta hasil belajar siswa yang tinggi. Selain itu pemanfaatan media yang tepat akan membuat konsepsi atau materi yang disajikan menjadi lebih nyata dan jelas, mudah dipahami dan diingat, menarik dan mengesankan, serta membuat proses penyampaian menjadi lebih efektif dan efisien.
Model pembelajaran CTL sangat menunjang pengelolaan kelas sehingga pengajaran yang dilakukannya menjadikan seorang guru kreatif, berkarakter dan profesional. Metode ini menjadikan proses belajar mengajar akan lebih konkret dan nyata, lebih aktual, lebih menyenangkan, dan lebih bermakna. Pembelajaran dengan model CTL ini sesuai dengan konsep teknologi pendidikan dan pembelajaran pada hakikatnya, yang merupakan kegiatan menyampaikan pesan kepada siswa oleh narasumber dengan menggunakan bahan ajar, alat, dan teknik mengajar dan berada dalam lingkungan tertentu. Pembelajaran CTL akan mendorong ke arah belajar aktif. Belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan peserta didik secara fisik mental, intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.[7]
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada Guru kelas X SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Baratyang dilakukan pada tanggal 11-15 september 2017, diperoleh informasi bahwa data hasil belajar dari 31 siswa dan siswi yang terdiri dari 9 orang siswa dan 22 siswi hanya 19 orang yang bisa tuntas di atas nilai 75 sesuai KKM pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam artinya masih tergolong rendah. Disamping itu, peneliti melihat bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, ketika guru menjelaskan siswa hanya duduk diam, ada yang bermain-main saja di belakang, bahkan ketika diberi pertanyaan oleh guru, hanya sedikit sekali siswa yang mengacungkan tangan untuk menjawab. Siswa terlihat bosan dan enggan mengikuti pelajaran dengan seksama, masih banyak yang berbicara dengan teman sebangku, bahkan ada yang sering keluar masuk ruangan dengan alasan ke kamar mandi hanya untuk menghindari kegiatan belajar yang membosankan.[8]
Rendahnya nilai siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam disebabkan oleh dua factor, yaitu faktor guru dan faktor siswa. Penyebab dari permasalahan dari guru yaitu; Guru tidak menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan hanya menggunakan metode konvensional yaitu hanya sebatas ceramah, Guru tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dalam proses pembelajaran, dan guru kurang memampaatkan media pembelajaran tersedia. Dengan faktor tersebut dapat menimbulkan reaksi dan mengakibatkan siswa merasa bosan pada saat proses pembelajaran, siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran sehingga menyebabkan hasil belajar kurang dari KKM yang ditetapkan di Sekolah.
Berdasarkan observasi dan wawancara awal yang dilakukan peneliti diatas, maka perlu diupayakan strategi atau model pembelajaran yang efektif dan efisien, sebagai alternative untuk meningkatkan proses pembelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu sebagai bakal calon guru yang professional, maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam KelasXSMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat Tahun Pelajaran 2017/2018.
C.    Sasaran Tindakan
Sasaran tindakan pada penelitian ini adalah Siswa Kelas X beserta Guru Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai subjek penelitian dan objek dari penelitian ini adalah Implementasi model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimanakah Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama IslamKelas X SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat Tahun Pelajaran 2017/2018?”
E.     Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kinerja guru dan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XSMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok BaratTahun Pelajaran 2017/2018”.
F.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis 
Hasil penelitian ini secara teoretis diharapkan bermanfaat untuk menambah khazanahkajian tentang Implementasi model pembelajaran CTL terhadap hasil belajar siswapada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi peneliti dapat menambah pengalaman secara langsung tentangImplementasiModel Pembelajaran Contextual Teaching and Learning dalam peningkatan hasil belajar siswa .
b.      Bagi peserta didik dapat meningkatkan hasil belajardan  memberikan sikap positif terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya siswa KelasXSMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat.
c.       Bagi guru sebagaiinspirasi untuk meningkatkan keterampilan memilih model pembelajarankhususnya Guru Pendidikan Agama Islam SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat.
d.      Bagi  pihak SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barathasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi sekolah, khususnya kepala sekolah yang dapat ditindak lanjuti dan diinformasikan kepada staf edukatif untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga mutu sekolah meningkat.
G.    Telaah Pustaka
Keterkaitan antara penelitian yang satu dengan penelitian yang lain merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Adanya keterkaitan itu menunjukkan bahwa suatu penelitian dapat merupakan tindak lanjut dari penelitian-penelitian sebelumnya atau juga menunjukkan adanya relevansi yang terjadi. Namun adanya relevansi tersebut bukan berarti mengindikasikan jika suatu penelitian sama persis dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Masing-masing penelitian mempunyai fokus tersendiri dalam penelitiannya termasuk juga penelitian ini.
Telaah pustaka merupakan penelusuran terhadap studi dan karya-karya terdahulu yang terkait untuk menghindari perbuatan duplikasi, palagiansi, serta menjamin keaslian dan keabsahan penelitian yang dilakukan. Peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain:
1)      Penelitian yang dilakukan oleh Amalia Tussolukha dengan judul “Implementasi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Bahasa Arab Kelas VII Di Mts Muhammadiyah Purwokerto Banyumas”[9].
Hasil penelitian, pada siklus 1 menunjukan bahwa 13 dari 21 siswa kelas VII telah mencapai ≥ 70 dengan presentase ketuntasan 61,9% dan rata-rata kelas 63,3. Pada siklus 2 menunjukan bahwa 18 dari 21 siswa telah mencapai ≥ 70 dengan presentase ketuntasan 85,7% dengan rata-rata kelas 77,6. Hasil belajar siswa tersebut menunjukan bahwa indikator kinerja telah tercapai yaitu minimal 75% siswa memperoleh nilai ≥ 70.
2)      Penelitian yang dilakukan oleh Dionysius Dwi Noviantoro dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kontektual Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Membaca Gambar Teknik Di SMK Piri 1 Yogyakarta”.[10]
Hasil penelitian, pada siklus 1 menunjukan bahwa 5 dari 15 siswa kelas X telah mencapai ≥ 65 dengan presentase ketuntasan 50% dengan rata-rata 67,6.Pada siklus 2 menunjukan bahwa 14 dari 15 siswa telah mencapai ≥ 65%dengan presentase ketuntasan 90% dengan rata-rata 77,2. Hasil belajar siswa tersebut menunjukan bahwa indikator kinerja telah tercapai yaitu minimal 75% siswa memperoleh nilai ≥ 65.
3)      Penelitian yang dilakukan oleh Endrawati dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelaas VII MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2014/2017”.[11]
Hasil penelitian,pada siklus 1 menunjukan bahwa 9 dari 23siswa VII telah mencapai ≥ 65 dengan presentase ketuntasan 50% dengan rata-rata 67,6.Pada siklus 2 menunjukan bahwa 20 dari 23 siswa telah mencapai ≥ 65%dengan presentase ketuntasan 90% dengan rata-rata 77,2. Hasil belajar siswa tersebut menunjukan bahwa indikator kinerja telah tercapai yaitu minimal 75% siswa memperoleh nilai ≥ 65.
Adapun persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini yang dilakukan oleh peneliti-peneliti di atas yaitu;
Persamaan penelitian ini dengan penelitian di atas yaitu terletak pada penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas, dan pada salah satu variabel penelitian sama-sama menggali tentang model pembelajaran Contexstual Teaching and Learning (CTL).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian di atas yaitu terletak pada judul penelitian, seting tempat penelitian, tahun dilaksanakan penelitian, dan mata pelajaran yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Dari beberapa persamaan dan perbedaan tersebut peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan pendekatan yang sama hanya saja berbeda pada mata pelajaran yang diajarkan dan lokasi penelitian yang membedkannya dimana rincian judul penelitian ini yaitu Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI, dan lokasi penelitian yakni di SMA Islam Abhariyah Jerneng Labuapi Lombok Barat.
H.    Kajian Teori
1.      Model Pembelajaran
a.       Pengertian model pembelajaran.
Menurut Arends sebagaimana yang dikutip oleh Agus Suprijono menerangkan, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.[12]
Isjoni menerangkan, model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk mengatur materi pembelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya.[13]
Sedangkan Istarani menjelaskan, model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang, dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar.[14]
Dari pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang dirancang untuk menciptakan pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
b.      Macam-macam model pembelajaran.
   Ada beberapa model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha mengoptimalkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran tersebut antara lain terdiri dari:[15]
1)      Model pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).
2)      Model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI).
3)      Model pembelajaran Partisipatif, Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM).
4)      Model pembelajaran Kooperatif.
5)      Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

2.      Model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).
a.       Pengertian pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.[16]
Sedangkan menurut Johson model pembelajaran CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan mebantu peserta didik melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konsep kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosial, dan budayanya.[17]
Pendapat Lain mengatakan bahwa pendekatan CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan Implementasinya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Dari beberapa definisi yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL adalah model pembelajaran yang menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa yang bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan atau ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain dan dari konteks satu ke konteks yang lain.
b.      Karakteristik PembelajaranContextual Teaching And Learning(CTL)
Model pembelajaran CTL meiliki karakteristik, menurut Johnson ada delapan karakteristik pembelajaran CTL yaitu :
1)   Melakukan hubungan  yang bermakna (making meaningful connections). Artinya, peserta didik dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat  bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing).
2)   Melakukan kegiatan yang signifikan (doing significant work). Artinya, peserta didik membuat hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
3)   Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning).
4)   Bekerja sama (collaborating). Artinya, peserta didik dapat bekerja sama, pendidik membantu peserta didik bekeja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5)   Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Artinya, peserta didik dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif, dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika serta bukti-bukti.
6)   Mengasuh atau memelihara pribadi peserta didik (nurturing the individual). Artinya, peserta didik memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, harapan-harapan yang tinggi, memotivasi, dan memperkuat diri sendiri. Peserta didik tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa.
7)   Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards). Artinya, peserta didik mengenal dan mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya. Pendidik memperlihatkan kepada peserta didik untuk mencapai apa yang disebut “excellence.[18]
Dari pendapat diatas bahwa karakteristik pembelajaran CTL adalah peserta didik mampu belajar secara aktif dalam mengembangkan motivasi belajarnya secara individu maupun kelompok, bisa mengaitkan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata, mampu menjalin interaksi antara kelompok. Sehingga tidak menjadi peserta didik yang cenderung individual.
c.       ImplementasiModel PembelajaranContextual Teaching And Learning (CTL) Di Kelas
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya. Sebuah kelas menggunakan CTL jika menerapkan ke tujuh prinsip itu dalam pembelajarannya.
Secara garis besar langkah-langkah ImplementasiModel Pembelajaran CTL di dalam kelas adalah sebagai berikut:
1)      Memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa dengan belaja akan lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.Pada dasarnya model pembelajaran CTL menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan asli proses belajar mengajar atau biasa disebut denngan Kontruktivisme yakni landasan berpikir bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Pengetahua bukanlah seperangakat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk di ambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.[19]
2)      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. Inkuiri meruapakan bagian inti dari pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada materi yang diajarkan. Siklus inkuiri terdiri dari:
a)      Observasi (Observation).
b)      Bertanya (Questioning).
c)      Mengajukan dugaan (Hypotesis).
d)     Pengumpulan data (Data Gathering).
e)      Penyimpulan (Concluction).
Langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah sebagai berikut :
a)      Merumuskan masalah.
b)      Mengamati atau melakukan observasi
c)      Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan karya lainnya.
d)     Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.[20]
3)      Merangsang sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.Pengetahuan yang dimilki seseorang bernula dari bertanya. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
a)      Menggali informasi baik administrasi maupun akademik.
b)      Mengecek pemahaman siswa.
c)      Membangkitkan respon kepada siswa.
d)     Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa.
e)      Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
f)       Memfokuskan perhatian siswa pada hal-hal yang dikehendaki guru.
g)      Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
h)      Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.[21]
4)      Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Konsep learning community mmenyarankan agar hasil pembalajara dihasilkan dari kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas CTL guru disarankan selalu nelaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang siswa yang mengajari gurunya bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanyaterjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru kearah siswa, tidak ada arus informasi yang harus dipelajari guru dari siswa. Dalam hal ini yang aktif adalah siswa bukan guru.[22]
Sebagai contoh, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang siswanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu mengajari yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan atau pendapat segera memberi tahu, dan seterusnya.
5)      Mengadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tetentu, ada model yang biasa ditiru oleh siswanya. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seseorang bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang dikehandakinya.[23]
6)      Melakukan refleksi di akhir pertemuan.Refleksi adalah cara berpikir tentag apa yang baru dipelajari atau brpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru saja dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadadian atau aktivitas pengetahuan yang baru diterima.
Kunci dari semua itu adalah bagaimana pengetahuan itu teringat dibenak siswa. Siswa mencatat apa saja yang sudah dipelajari dan bagaiman merasakan ide-ide baru. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu agar siswa melakukan refleksi, realisasinya seperti :
a)      Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya waktu itu.
b)      Caatan atau jurnal dari buku siswa.
c)      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran waktu itu.
d)     Diskusi.
e)      Hasil karya.
7)      Melaksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara atau biasa dikenal dengan Assessment.[24]Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar guru bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. Penilaian tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik antara lain :
a)      Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran.
b)      Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
c)      Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.
d)     Berkesinambungan.
e)      Terintegrasi.
f)       Dapat digunkan sebagai feedback.[25]
d.      Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning.
Adapun berbagai kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) ialah sebagai berikut[26]:
1)      Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan rill. Artinya siswa dituntut dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, karena dengan mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi tersebut sebagai fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memorinya, sehingga tidak mudah dilupakan.
2)      Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep pada siswa, karena model pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme yakni seorang siswa yang dituntut menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofi konstruktivisme, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami”, bukan “menghapal”.
3)      Contextual Teaching and Learning adalah model pembelajran yang menekankan pada aktivitas siswa secra penuh, baik fisik maupun mental.
4)      Kelas dalam pembelajaran Contextual Teaching and Learning  bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan di lapangan.
5)      Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru.
6)      Penerapan pembelajaran Contextual Teaching and Learning  bisa menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna.
Sementara itu, beberapa kelemahan Contextual Teaching and Learning(CTL) adalah sebagai berikut[27]:
1)      Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning berlangsung.
2)      Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas, maka bisa menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif.
3)      Guru lebih intensif dalam membimbing. Sebab, dalam metode CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang kemampuanbelajarnya akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlan sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksa kehendak, melainkan pembimbing siswa agar dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
4)      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide serta mengajak siswa agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar. Namun, dalam konteks ini, tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diterapkan semula.

3.      Hasil belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pengerian Hasil adalah suatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh usaha.[28] Sedangkan belajar adalah “Berusaha mengetahui sesuatu; berusaha memperoleh ilmu pengetahuan (kepandaian, keterampilan).[29]
Kata atau istilah belajar dan hasil belajar bukanlah sesuatu yang baru, sudah sangat dikenal secara luas, namun dalam pembahasan belajar ini masing-masing ahli memiliki pemahaman dan definisi yang berbeda-beda, walupun secara praktis masing-masing kita sudah sangat memahami apa yang dimaksud belajar tersebut.[30]Oleh karena itu, untuk menghindari pemahaman yang beragam tersebut, berikut akan dikemukakan berbagai definisi belajar menurut para ahli:
Cornbach dalam bukunya Educational Psychology yang dikutip oleh Sumadi Suryabrata menyatakan:
Learning is show by a change in behavior as a result of experience
Jadi menurut Cronbach belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancaindranya.[31]
Senada dengan itu, Gagne dalam bukunya The Congnitive Psychology of School Learning sebagaimana dikutip oleh Ratna Wilis Dahar mendefinisikan belajar adalah suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.[32]
Mansyur mendefinisikan “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan”.[33]
Sobri Sutikno mengemukakan “Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.[34]
Ahmad Susanto, belajar adalah aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.[35]
Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.[36]
Dari pengertian belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas terdapat unsur keseragaman, yaitu:
1)      Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif permanen didalam behavioral.[37]
2)      Perubahan tingkah laku tersebut diperoleh melalui latihan dan pengalaman.[38]
3)      Aspek yang mengalami perubahan adalah seluruh aspek keperibadian, yaitu perubahan fisik dan perubahan psikis.[39]
Dari berbagai pengertian belajar dan hasil yang dikemukakan oleh beberpa ahli diatas, Hasil belajar merupakan hasil yang telah dicapai setellah dilaksanakan program kegiatan belajar mengajar di sekolah.  Hasil belajar dalam priode tertentu dapat dilihat dalam bentuk angka-angka. Hasil belajar merupakan ‘’nilai keberhasilan belajar seseorang siswa setelah ia melaksakan proses belajar selama priode tertentu’’.[40]
Pendapat lain mengatakan bahwa hasil belajar Menurut Suprijono sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Thobroni & Arif Mustofa mengintrodusirkan, Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pemikiran gagne, hasil belajar berupa hal-halberikut :[41]
1)      Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, maupun penerapan aturan.
2)      Keterampilan intelektual, yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintetis fakta konsep, dan megembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
3)      Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4)      Keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urussan dan koordinasi sehingga terwujud otomatismegerak jasmani.
5)      Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkanpenilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi  dan eksternalisasi nilai-nilaisebagai standar perilaku.
Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, menyebutkanfaktor-faktor yangmempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut[42]:
1)      Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
2)      Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Jadi dapat diartikan bahwa hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai siswa dan siswi dalam mengikuti program belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai peserta didik setelah dilaksanakan program kegitatan belajar mengajar dan dapat dijadikan tolah ukur keberhasilan suatu lembaga pendidikan tersebut.
4.      Mata Pembelajaran PAI di SMA.
a.       Konsep mata pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA.  
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu yang diberikan kepada peserta didik demi mendukung peserta didik dalam menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga manusia muslim yang terus berkembang dalam hal ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[43]
Jadi, pada intinya Pendidikan Agama Islam pada umumnya menginginkan generasi yang intelek-ulama atau ulama yang intelek sebagai manifestasi dari keseimbangan antara kecerdasan spiritual dan intelektual. Sebab, apa gunanya intelektualias tanpa dibarengi oleh spritualitas. Selanjuutnya spritualitas tanpa intelektualitas juga tidak akan sempurna.[44]Oleh karena itu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam penting mendapatkan perhatian yang besar bagi seorang anak di usia dini, agar kedepannya akan terbiasa menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan Agama yang dipahaminya.

b.      Tujuan mata pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA.
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sember utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.[45]
Adapun tujuan pendidikan agama islam di SMA adalah sebagai berikut:[46]
1)      Siswa diharapkan mampu membaca al-Qur’an, menulis dan memahami ayat al-Qur’an serta mampu mengimplementasikannya didalam kehidupan sehari-hari.
2)      Beriman kepada Allah Swt, malaika-malaikatNya, rasul-rasulNya, kepada hari kiamat dan qadha dan qadarNya. Dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi dalam sikap, prilaku dan akhlak peserta didik pada dimensi kehidupan sehari-hari.
3)      Siswa diharapkan terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji dan menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Materi mata pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Kelas X.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan di SMA. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam ini dibicarakan sebelas bidang pembahasan atau yang biasa dikenal dengan delapan bab. Di antaranya yaitu[47] :
1)      Aku Selalu Dekat dengan Allah Swt.[48]
      Dalam bab ini membahas tentang Al-Asma’u al-Husna  nama-nama yang baik dan indah yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. sebagai bukti keagungan-Nya. Nama-nama Allah Swt. yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan keagungan-Nya.
             Dalam al-Asma’u al-Husna terdapat sifat-sifat Allah Swt. yang wajib dipercayai kebenarannya dan dijadikan petunjuk jalan oleh orang yang beriman dalam bersikap dan berperilaku.
             Sebagai orang Muslim yang beriman akan menjadikan tujuh sifat Allah Swt. dalam al-Asma’u al-Husna sebagai pedoman hidupnya, dengan berperilaku: adil, pemaaf, bijaksana, menjadi pemimpin yang baik, selalu berintrospeksi diri, berbuat baik dan berkasih sayang, bertakwa, menjaga kesucian, menjaga keselamatan diri, berusaha menjadi orang yang terpercaya, memberikan rasa aman pada orang lain, suka bersedekah, dan sebagainya.
2)      Berbusana Muslim dan Muslimah Merupakan Cermin Kepribadian dan Keindahan Hati.[49]
      Dalam bab ini membahas tentang Kewajiban menutup aurat yang disyari’atkan untuk kepentingan manusia itu sendiri sebagai wujud kasih    sayang dan perhatian Allah Swt. terhadap kemaslahatan hamba-Nya di muka bumi. Menutup aurat adalah kewajiban agama yang ditegaskan dalam al-Qur’ān  maupun hadist Rasulullah saw. Kewajiban bagi kaum mukminah untuk mengenakan jilbab untuk menutup auratnya kecuali terhadap beberapa golongan. Dalam Q.S. Al-Ahzāb/33:39 ditegaskan perintah menggunakan jilbab dan memanjangkannya hingga ke dada, dengan tujuan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada setiap mukminah. Sedangkan dalam hadis dari Ummu A'isyyah berisi anjuran kepada setiap muslimah untuk menghadiri Salat I´dul Fitri dan I´dul Adha meskipun sedang haid atau dipingit.Sementara yang tidak memiliki jilbab, dia bisa meminjamnya dari saudara seiman.
3)      Mempertahankan Kejujuran Sebagai Cermin Kepribadian.[50]
      Dalam bab ini membahas tentang Kejujur yang merupakan sifat mulia yang menunjukkan kesesuaian antara kebenaran dengan apa yang diucapkan atau dilakukan oleh seseorang beserta macam-macam jujur, dalil-dalil tentang kejujuran, dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
4)      Al-Qur’an dan Hadis adalah Pedoman Hidupku.
      Dalam bab ini membahas tentang al-Qur’an dan hadis sebagai imam (ikutan) disetiap tindak tanduk dan aktifitas kehidupan. Berimam kepada al-Qur’an secara totalitas (kaaffah) dengan mengamalkan segala isi dan kandungannya tampa membeda-bedakan antara satu ayat dengan ayat lain atau antara satu surat dengan surat lainnya. Berimam kepada semua hadis sahih dan hasan dengan menjadikan keduanya sebagai dalil dalam segenap perilaku kehidupan. Sedangkan berimam kepada sebahagian hadis dha’if dalam arti mengamalkannya untuk menjadi motifasi dan dorongan agar semakin taqwa kepada Allah SWT.
5)      Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah.[51]
      Dalam bab ini membahas tentang bagaimana meneladani perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Sebagai pelajaran untuk mengarungi kehidupan sehari-hari kedepannya yaitu dengan berani menunjukkan perilaku pejuang yang islami, yaitu memiliki niat yang kuat, berakhlak mulia, tabah dan rela berkorban, selalu mnyampaikan kebenaran, dan islam.
6)      Meneliti Hidup dengan Kemudian.
      Dalam bab ini membahas tentang Pengendalian diri (mujahadah an-nafs) adalah perilaku upaya untuk tetap berada dalam setiap kebaikan dan terhindar dari sifat-sifat yang membenisakan dirinya, orang lain, dan lingkungan.
7)      Malaikat Selalu Bersamaku.
      Dalam bab ini membahas tentang kesadaran bahwa malaikat selalu mengontrol aktifitas kehidupan sehari-hari sampai akhir hayat di atas dunia.
8)      Sayang, Patuh, Dan Hormat Kepada Orang Tua Dan Guru.[52]
      Dalam bab ini membahas tentang pentingnya kepatuhan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap orang tua dan guru.
9)      Mengelola Wakap Dengan Penuh Amanah.[53]
      Dalam bab ini membahas tentang dalil-dalil, hikmah, dan tata cara pengelolaan wakap yang disyariatkan oleh agama.
10)  Meneladani Perjuangan Rasullulah Saw. Di Madinah.[54]
      Dalam bab ini membahas tentang bagaimana meneladani perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Sebagai pelajaran untuk mengarungi kehidupan sehari-hari kedepannya yaitu dengan berani menunjukkan perilaku pejuang yang islami, yaitu memiliki niat yang kuat, berakhlak mulia, tabah dan rela berkorban, selalu mnyampaikan kebenaran, dan islam.[55]
11)  Nikamatnya Mencari Ilmu Dan Indahnya Berbagi Pengetahuan.[56]
      Dalam bab ini membahas dalil-dalil tentang anjuran menuntut ilmu dan pentingnya berbagai pengetahuan.
12)  Menjaga Martabat Manusia Dengan Menjauhi Perbuatan Zina.[57]
      Dalam bab ini membahas pentingnya menjaga martabat manusia dengan menjauhi perbuatan zina serta dalil-dalil larangan mendekati perbuatan zina.
d.      Metode mata pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Kelas X.
Adapun metode-metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam diantaranya adalah sebagai beriku: Metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab, metode keteladanan, metode latihan, metode kisah dll.
I.       Metode Penelitian
1.      Setting Penelitian.
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.[58] Sedangkan menurut Zaenal Aqib Penelitian Tindakan Kelas adalahpenelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri atau melalui reflexi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswanya  meningkat.[59] Jadi Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di Lapangan.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2017/2018  diSMA Islam Kelas X Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat. Alasan memilih SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Lombok Barat karena berdasarkan hasil observasi, terungkap bahwa rata-rata hasil belajar siswa masih rendah.
2.      Sasaran Penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan diKelas X SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat tahun pelajaran 2017/2018 dengan subjek penelitian yaitu siswa dengan jumlah 9 orang dan siswi 22 orang dengan keseluruhannya adalah 31 siswa dan siswi dan guru mata pelajaran PAI yang akan dijadikan sebagai sasaran penelitian. Penelitian ini dilakukan secara bertahap untuk mengetahui perubahan dan peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa ketika proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran CTL.
3.      Rencana Tindakan
Penelitian ini direncanakan 2 siklus dengan tahapan-tahapan yang terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi. Secara rinci rencana penelitian tindakan kelas dalam bentuk ragam sebagai berikut:
Rounded Rectangle: perencanaan    Siklus
                                               
Rounded Rectangle: pelaksanaan                       
Rounded Rectangle: Obserrvasi dan evaluasi           


 


Gambar : Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK).[60]

Siklus 1 PTK
a.       Tahap perencanaan
Pada tahap perencanaan ini peneliti melakukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk dimati, kemudian mendapat sebuah instrument pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.
Secara rinci pada tahap ini terdiri dari kegiatan sebagai berikut :
1)   Mempersiapkan bahan yang akan diajarkan (RPP).
2)   Membuat lembar observasi untuk mengamati penggunaan model pembelajaran  CTL
3)   Membuat instrument tes.

b.      Tahap pelaksanaan tindakan
Pada tahap ini model pembelajaran yang sudah disusun pada perencanaan tindakan akan diterapkan dengan cara kolaborasi oleh peneliti dan guru dalam upaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama IslamKelas Kelas X SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat Tahun Pelajaran 2017/2018. Tindakan ini berlangsung di dalam kelas dengan berpedoman pada kurikulum, silabus mata pelajaran dan rencana pembelajaran.
c.       Tahap Observasi dan evaluasi
Observasi terhadap pelaksanaan tindakan, menggunakan format pengamatan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Observasi ini dilakukan oleh guru sejawat yang telah memahami cara pengisian format langkah-langkah model Pembelajar Contextual Teaching and Learning (CTL). Observasi ini dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Kegiatan evaluasi sebagai proses pengumpulan data, mengelolah data dan menyajikan informasi sehingga bermanfaat untuk pengambilan keputusan tindakan. Evaluasi diarahkan pada penemuan bukti-bukti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang terjadi setelah pelaksanaan tindakan.

d.      Tahap refleksi
Tahap refleksi merupakan tahap memproses data yang diperoleh dari tahap evaluasi. Data yang diperoleh kemudian ditafsirkan dan dijadikan masukan pada analisis data dengan mempertimbangkan bahwa segala pengalaman teori dan pengalaman instruksional direfleksi untuk menarik suatu kesimpulan.Pada tahap ini diklasifikasikan siswa yang sudah tuntas dengan siswa yang belum tuntas pada proses pembelajaran siklus 1 dengan mempersiapkan desain pada proses pembelajaran siklus 2.[61]

Siklus 2 PTK
Pelaksanaan siklus 2 ini didasarkan pada hasil refleksi yang sudah dilakukan pada siklus 1, mengulang kembali tahapan-tahapan yang sudah tertera pada siklus 1, dan siklus 2 merupakan penyempurnaan dari siklus 1 dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih baik. Pada siklus 2 yang merupakan tahap refleksi dari siklus 1. Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana dilaksanakan pada siklus 1 dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan yang ada pada implementasipembelajaran yang ada pada siklus 1, kemudian disempurnakan kembali pada siklus 2.


4.      Jenis Instrument dan Cara Penggunaannya
Untuk mendapatkann data yang diperlukan, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, soal tes hasil belajar dan dokumentasi.
a.       Lembar observasi
Observasi adalah “salah satu teknik pengumplan data yang merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.”[62]Pendapat lain mendefinisikan, “Observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis, dengan prosedur yang terstandar.”[63]
Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengamati hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning(CTL) pada pembelajaraan Pendidikan Agama Islam di kelas X SMA Islam Abhariyah.
Jenis observasi yang dilakukan adalah observasi partisi karena pada saat melakukan observasi, peneliti secara langsung datang ke lokasi penelitian, dan langsung mengamati proses pembelajran.[64]


Tabel 1.1 Observasi Aktivitas Guru
Kegiatan
Tahapan-tahapan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Kegiatan Guru
Terlaksana
Komentar
Ya
Tidak


Pendahuluan

1. Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan kabar mereka, kemudian mempersiapkan siswa untuk belajar.



2. Apakah Guru memberikan apersepsi “Siapa yang pernah mencabut rumput di rumah atau di halaman sekolah? Bagaimana bentuk akarnya?”



3.Apakah Guru Memotivasi siswa?



4.Apakah Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai?



Tahap Intin Akhirasanarigkatanlkan swa tentang hal-hal yang belum dipahami ?
Tahap Kontruktivisme
5.Apakah Guru memberikan penjelasan singkat tentang bagian akar pada tumbuhan?



Tahap Questioning
6.Apakah guru mempersilahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan untuk memperkuat pengetahuan yang telah ditemukan?



Tahap Learning Comunity
7.Apakah Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok yang beranggotakan 5-6 orang secara heterogen?



8.Apakah Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok untuk  diselesaikan dengan cara berdiskusi?



Tahap Inquiri
9.Apakah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan akar?



10.               Apakah Guru membimbing siswa dalam berdiskusi kelompok?



Tahap Modelling
11.               Apakah Guru memberikan kesempatan kepada perwakilan setiap kelompok untuk tampil membacakan hasil diskusinya.



12.               Apakah guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk bertanya kepada kelompok yang membacakan hasil diskusinya di depan kelas, kemudian memberikan jawaban kepada kelompok yang bertanya ?



13.               Apakah guru memuji kepada kelompok yang aktif dalam diskusi dan mampu menjawab pertanyaan kelompok lain dengan benar ?



Kegiatan Akhir
Tahap Reflection
14.               Apakah guru menanyakan kepada siswa tentang hal-hal yang belum dipahami ?



15.               Apakah guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi kelompok ?



Tahap Authentic Assesment
16.               Apakah guru memberikan evaluasi yang berupa tes tertulis atau pertanyaan pertanyaan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang baru dipelajari



Skor



Persentase ketuntasan




Tabel 1.2 Observasi Aktivitas Siswa
Kegiatan
Tahapan-tahapan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Kegiatan Siswa
Terlaksana
Komentar
Ya
Tidak


Pendahuluan

1. Apakah siswa menjawab salam dan siap menerima pelajaran?



2. Apakah siswa aktif pada apersepsi dengan menjawab pertanyaan “Siapa yang pernah mencabut rumput di rumah atau di halaman sekolah? Bagaimana bentuk akarnya?



3. Apakah siswa mendengarkan motivasi yang diberikan serta semangat dalam mengikuti pebelajaran yang dilaksanakan?



4. Apakah siswa mendengarkan dan memahami tujuan pembelajaran yang akan dicapai?



Tahap Intin Akhirasanarigkatanlkan swa tentang hal-hal yang belum dipahami ?
Tahap Kontruktivisme
5. Apakah siswa memperhatikan penjelasan guru?



Tahap Questioning
6. Apakah siswa mengajukan pertanyaan untuk memperkuat pengetahuan yang telah ditemukan?



Tahap Learning Comunity
7. Apakah siswa menempati tempat duduk sesuai dengan kelompok yang telah dibagi secara heterogen oleh guru?



8. Apakah setiap kelompok menerima LKS yang akan diselesaikan dengan cara berdiskusi



Tahap Inquiri
9. Apakah siswa melakukan pengamatan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan akar?



10. Apakah siswa dibimbing dalam berdiskusi kelompok



Tahap Modelling
11. Apakah setiap kelompok mendapat  kesempatan untuk tampil membacakan hasil diskusinya?



12. Apakah setiap kelompok mendapat kesempatan untuk tampil membaca diskusinya ?



13. Apakah siswa memberikan semangat kepada kelompok yang mendapat pujian dengan bertepuk tangan ?



Kegiatan Akhir
Tahap Reflection
14. Apakah siswa mengajukan pertanyaan akan hal-hal yang belum dipahami ?



15. apakah siswa menyimpulkan hasil diskusi kelompok ?



Tahap Authentic Assesment
16. Apakah siswa menjawab peranyaan-pertanyaan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi yang baru dipelajari ?



Skor



Persentase ketuntasan




b.      Wawancara
Wawancara adalah “Suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab”.[65] Menurut Moleong, Metode wawancara adalah “suatu percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua orang yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”.[66] Interview adalah “alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan-pertanyaan secara lisan pula”.[67] Ciri utama dari interview adalah “kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi (interview) dan sumber informasi (interview). Sedangkan menurut Arikunto, memberikan pengertian wawancara adalah”sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (interview) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interview)”.[68]
Menurut Arikunto wawancara dapat dibedakan menjadi tiga:
1) Wawancara Tak Terstruktur.
Wawancara tidak struktur adalah wawancara yang hanya bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang lebih tersusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya memuat garis besar yang akan dipertanyakan.
2) Wawancara Terstruktur.
Wawancara Terstruktur adalah wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check list
3) Wawancara Semi struktur.
Wawancara Semi Struktur merupakan percakapan yang diarahkan untuk menggali topic-topik yang telah ditetapkan dan pertanyaan-pertanyaan baru yang menyertainya. Kemudian satu persatu diperdalam mengorek keterangan lebih lanjut, dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variable dengan keterangan yang lengkap dan lebih mendalam.[69]
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam yang dilakukan secara semi terstruktur agar subjek penelitian lebih terbuka dalam memberikan data. Dalam penelitian ini, peneliti menyiapkan instrument wawancara untuk menggali informasi yang dibutuhkan terkait dengan fokus penelitian. Namun, ketika mengajukan pertanyaan kepada narasumber, peneliti tidak mengurutkan pertanyaan berdasarkan instrument wawancara yang telah dibuat, akan tetapi pertanyaan tersebut dapat diacak selama informasi yang dibutuhkan bisa didapatkan dari narasumber yang bersangkutan.
Adapun informan yang diwawancarai dalam penelitian ini antara lain: Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X SMA Islam Abhariyah, dan 2 orang peserta didik kelas X SMA Islam Abhariyah, pengambilan 2 orang peserta didik ini sebagai narasumber peneliti lakukan berdasarkan “purposive sampling yaitu mengambil sampel sumber data berdasarkan pertimbangan tertentu”.[70] Peneliti mempunyai pertimbangan bahwa 2 orang peserta didik tersebut dianggap mampu mewakili semua anggota kelasnya yang berjumlah 31 yang terdiri dari 9 siswa dan 22 siswi dalam memberikan  informasi terkait yang dibutuhkan oleh peneliti.
c.       Tes
Tesadalahcara untuk mengukur hasil belajar yakni melalui tes proyektif yaitu dalam tes ini siswa diberikan gambar kemudian siswa diminta untuk membuat cerita dari gambar tersebut, atau kuesioner yaitu siswa diminta untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing hasil belajar siswa, atau observasi pelaku yaitu membuat situasi sehingga siswa dapat memunculkan perilaku yang mencerminkan hasil belajarnya.
Dalam hal ini, peneliti meggunakan tes soal yaitu berisikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengukur hasil belajar siswa, sehingga dapat diketahui hasil belajar siswa melalui pendekatan model pembelajaran CTL.
Tabel 1.3 Analisis ketuntasan belajar siswa secara klasikal
No
Indikator
Skor
Siswa
Persentase %
1
Belum Tuntas
0 - 74


2
Tuntas
75-100



d.      Dokumentasi
Dokumentasi diartikan sebagai catatan peristiwa yang sudah berlalu.[71]Catatan peristiwa dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Metode dokumentasi dalam penelitian ini merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.
Adapun dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai pendukung data dalam penelitian ini antara lain: profil dan keadaan SMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat.
5.      Pelaksanaan Tindakan
Tahap dari Penilaian Tindakan Kelas adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau Implementasi isi rancangan, yaitu menggunakan tindakan di kelas. Hal yang perlu diinggat bahwa dalam tahap ini bahwa guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi pula harus berlaku wajar dan tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksana dengan perencanaan perlu diperhatiakan secara seksama agar singkron dengan rencana semula.[72] Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan tindakan yaitu :
a.       kegiatan pendahuluan
Didalam kegiatan pendahuluan,  melakukan :
1)      Masuk kelas dengan tenangdan senyum.
2)      Mengucapkan salam
3)      Memperkenalkan diri (pada awal (pertemuan).
4)      Mengabsen siswa.
5)      Apersepesi.
b.      Kegiatan inti
Menyajikan materi kepada siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran CTL , yng dikemas sedemikian rupa agar mudah dipahami dan dikerjakan oleh semua siswa. Langkah-langkahnya yaitu:
1)      Membentuk kelompok minimal 3 orang dalam satu kelompok.
2)      Memberikan tugas (masalah) sesuai dengan kompetensi dasar.
3)      Menyuruh siswa untuk mempresentasikan hasil kerja
4)      Menjelaskan serta meluskan jawaban dari masing-masing kelompok yang kurang tepat.
c.       Kegiatan Penutup
Adapun langkah-langkahnya yaitu :
1)      Tanta jawab terkait dengan materi yang belum dipahami
2)      Menyimpulkan materi secara bersama.
3)      Menutup materi pembelajaran dengan salam.[73]
6.      Pengamatan (Monitoring)
Pengamatan terhadap kegiatan siswa dilakukan pada pembelajaran berlangsung untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa pada saat diterapkan model pembelajaran CTL pada proses belajar. Peneliti memberikan tes tertulis berbentuk pilihan ganda/uraian pada setiap akhir pembelajaran disetiap siklus, dan hasil tes disetiap siklus merupakan data yang digunakan sebagai penilaian kelayakan model pembelajaran yang diterapkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
7.      Analisi Data Dan Refleksi
Analisis data pada penelitian ini dilakukan selama proses pembelajaran. Setelah data terkumpul, peneliti menganalisis, mereduksi, dan menyimpulkan data itu. Pengumpulan data dilakukan setiap siklus penelitian tindakan kelas. Dengan adanya penyimpulan setiap siklus, peneliti akan dapat memahami proses tindakan yang dilakukan guru dalam pembelajaran, akhirnya peneliti memutuskan perencanaan selanjutnya. Adapun analisis data dan dilakukan untuk menjawab permasalahan yang diteliti yaitu “Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XSMA Islam Abhariyah Jerneng Terong Tawah Kec. Labuapi Lombok Barat Tahun Pelajaran 2017/2018”.
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti menggunakan teknik analisis data statistik. Adapun analis data pada penelitian ini dilakukan pada setiap aspek penilaian terhadap siswa, yaitu :
a.       Keterlaksanaan Pembelajaran
b.      Analisis keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh guru didasarkan pada persentase jumlah langkah pembelajaran yang terlaksana dengan baik terhadap seluruh langkah-langkah pembelajaran yang ada dengan rumus[74]:
% Aktivitas = X 100 %

c.       Untuk menentukan keberhasilan aktivitas belajar siswa digunakan rumus[75]:
% Aktivitas = X 100 %

d.      Menentukan nilai rata-rata hasil belajar siswa dengan rumus[76]:
X =


Keterangan:
X   = Nilai rata-rata yang diperoleh
∑xi = Jumlah nilai setiap siswa
N     = Jumlah siswa secara keseluruhan

e.       Untuk menentukan persentase ketuntasan belajar secara klasikal dalam tes siklus digunakan rumus[77]:
% Ketuntasan =
Keterangan:
∑fi = Jumlah nilai siswa yang tuntas belajar
N     = Jumlah siswa secara keseluruhan
8.      Indikator kerja
            Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dengan menggunakan model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning  (CTL) akan diyatakan berhasil apabila memenuhi indikator kinerja berikut.
a.       Hasil belajar siswa dinyatakan tuntas apabila minimal 85% siswa telah mencapai nilai minimal 75. Selanjutnya pembelajaran dikatakan tuntas secara klasikal apabila ketuntasan belajar siswa stelah menggunakan model pembelajaran CTL mencapai 85%.Berdasarkan KKM dari sekolah dan kriteria keberhasilan pembelajaran 
b.      Aktifitas guru dan aktifitas siswa dikatakan baik apabila minimal 85% dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan langkah langkah Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning   (CTL) telah dilaksanakan.


DATAR PUSTAKA
Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: Remaja RosdaKarya, 2005.

Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.

Agus Sujanto, Psikologi Umum, Jakarta: Aksara Baru, 1986.

Alfira Mulya Astuti, Statistika Penelitian, Mataram: Insan Madani Publishing, 2016.
Ahmad Azhari, “Makalah Model pembelajaran”, dalam https // www.google.com diakses tanggal 8 september 2017 pukul 18:20 WITA.

Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001.

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007.

Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, Jakarta: Prenadamedia Group, 2013.

Asrofudin, “Tujuan Dan Fungsi Mata Peljaran Fiqih MTs”, dalam http // blogspot.co.id/artike dikemas tanggal 27 september 2017, pukul 00.19.

Baharudin, Sosiologi Pendidikan, Mataram: Sanabil Perum Puri Bunga Amanah, 2016.

B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, The Theories Of Learning, Jakarta: Kencana, 2008.

Diana Suti Murniati, “Pengaruh Pendekatan Saintifik Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII Di SMP Negeri I Kediri Tahun Ajar 2015/2016”, Skripsi, IAIN Mataram, 2015/2017.

Isjoni, Belajar demi Hidup Menjadikan Pendidikan Untuk  Masa Depan Yang Lebih Baik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

Kunandar, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Guru Profesiona, jakara: Rajawali Pers, 2013.

Maimun, Kiat Sukses Menjadi Guru Halal, Mataram: LEPPIM IAIN Mataram, 2015.

Masnur Muslich, Melaksanakan PTK Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Mansyur, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1995.

Mohamad Iwan Fitriani, Manajemen Pendidikan Islam, Mataram: Institut Agama Islam Neger, 2015.

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.

Nelty Khairiyah dan Endi Suhendi Zen, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Jakarta: Kemdikbud, 2017


Ny. Retno S. Satmoko, Pengantar Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1995.

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2005.

__________Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulya, 2012.
Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Erlangga, 2006.

Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: PT Nimas Multima, 2008.

Sobri Sutikno, Belajar Dan Pembelajaran: Upaya Kreatif Dalam Mewujudkan Pembelajaran Yang Berhasil, Lombok: Holistika, 2013.
Suharsimi arikunto, Dkk, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: bumi aksara, 2008
Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001.

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006.

Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif,  Bandung: Alfabeta, 2006.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Trianto, Mendesain Model Pembelajarn Inovatif-Progresif, Jakarta: kencana, 2009.
Wina sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Bandung: San Grafika, 2011.

Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: SIC, 2009.
Zaenal Aqib, Dkk, Penelitian Tindakan Kelas, Untuk Guru SMP, SMA,SMK. Bandung: Yrama Widya, 2008.









[1]Baharudin, Sosiologi Pendidikan, (Mataram: Sanabil Perum Puri Bunga Amanah, 2016), h. 45
[2]Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), h. 15
[3]Ny. Retno S. Satmoko, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1995), h. 52
[4]Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, (Jakarta: PT Nimas Multima, 2008), hal. 60
[5]Maimun, Kiat Sukses Menjadi Guru Halal, (Mataram: LEPPIM IAIN Mataram, 2015), h. 77
[6]Isjoni, Belajar demi Hidup Menjadikan Pendidikan Untuk  Masa Depan Yang Lebih Baik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 18

[7] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulya, 2012) , h. 254.
[8]Observasi awal pada tanggal 11-15 september 2017
[9]Amalia Tussolukha, “Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Bahasa Arab Kelas VII DI MTs  Muhammadiyah Purwekerto Banyumas”, (Skripsi, IAIN Purwekerto, 2016/2017).
[10]Dionysius Dwi Noviantoro, “Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa  Pada Mata Pelajaran Membaca Gambar Teknik Di SMK Piri 1 Yogyakarta”, (Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2013/1014).
[11]Endrawati, “Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Untuk  Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas VII Unggulan MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2015/1016”, (Skripsi, IAIN Mataram, 2015).
[12]Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h. 46.
[13] Isjoni, Pembelajaran Kooperatif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 50.
[14] Istarani, Model Pembelajaran Inovatif, (Medan: Media Persada, 2011), h. 1.
[15] Miftahul Huda, Model model pengajaran dan pembelajaran, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2016), h. 71
[16] Wina sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan  (Bandung: San Grafika, 2011), h. 254.
[17] Kunandar, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Guru Profesional (jakara: Rajawali Pers, 2013), h. 274.
[18] Ibid,  h.276
[19] Trianto, Mendesai Model Pembelajarn Inovatif-Progresif, (Jakarta, kencana, 2009), h.113
[20] Ibid., 115.
[21] Ibid., h. 116.
[22] Kunandar, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Guru Profesional (jakara: Rajawali Pers, 2013), h. 118
[23] Ibid., 118.
[24] Trianto, Mendesai Model Pembelajarn Inovatif-Progresif, (Jakarta, kencana, 2009), h.119
[25] Ibid., h.120
[26] Rizema Stiava Putra, Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains, (Yogyakarta: Diva Press, 2013), h. 259
[27]Ibid., h. 260
[28]  Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, h. 45
[29]  Ibid…, h. 23
[30] Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013), h. 1
[31] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006), h. 231
[32] Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 2
[33]Mansyur, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1995), h. 12
[34]Sobri Sutikno, Belajar Dan Pembelajaran: upaya kreatif dalam mewujudkan pembelajaran yang berhasil, (Lombok: Holistika, 2013), h. 4
[35]Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran…, h. 4
[36]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h. 36
[37]B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, The Theories Of Learning, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 2
[38]Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran…, h. 3
[39]Mansyur, Strategi Belajar Mengajar…, h. 13
[40] Zaenuri, “Penerapan  Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil  Belajar Siswa  Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VIII Di MTs Nurul Haq Karang Bejelo Peraya”, (Skripsi, Institut Agama Islam  Negeri Mataram, 2011/2012).
[41]Muhammad Thobroni & Arif Mustofa,  Belajar & Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2011), h. 22-23.
[43] Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja RosdaKarya, 2005), h. 59.
[44] Mohamad Iwan Fitriani, Manajemen Pendidikan Islam, (Mataram: Institut Agama Islam Neger, 2015), h. 155.
                [45] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), h. 21
[46] Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 59.
[47]Nelty Khairiyah dan Endi Suhendi Zen, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017),  h. 1.
                [48] Ibid, h. 2.
                                [49] Ibid, h. 20.
                                [50] Ibid, h. 31.
                                [51] Ibid, h. 44.
                                [52] Ibid, h. 60.
                                [53] Ibid, h. 82.
                                [54] Ibid, h. 131.
                                [55] Ibid, h. 147.
                                [56] Ibid, h. 165.
                [57] Ibid, h. 178.
[58] Suharsimi arikunto, Dkk,  penelitian tindakan kelas, (Jakarta: bumi aksara, 2008), h. 3
[59]  Zaenal Aqib, Dkk, penelitian tindakan kelas, untuk guru smp, sma,smk. (bandung: yrama widya, 2008), h. 159
[60]Suharsimi arikunto, Dkk,  penelitian…, h. 16.
[61]Yatim Riyanto, metodologi penelitian pendidikan, (Surabaya: SIC, 2009), h. 142.
[62] Sugiyono, metode penelitian kualitatif kuantitatif,  (bandung: alfabeta, 2006), h. 145.
[63]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) h. 265.
[64]Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 66.
                            [65] Ibid, h. 130.
                            [66] Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), h. 135.
[67] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2004), h. 165.
[68] Suharsimi Arikuntonto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 265.
[69] Ibid, h. 270.
[70] Sugiyono, Metode Penelitian…, h. 218.
[71]Sugiono, Memahami Penelitian…, h. 82.
[72] Suharsimi arikunto, Dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: bumi aksara, 2008), H. 18.

[73]Trianto, Mendesain Model Pembelajarn Inovatif-Progresif, (Jakarta: kencana, 2009), h.96

[74]Nasution,  Didakti Asas-asas Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), h. 422.
[75]Ibid, h. 422.
[76]Rizema sitiatava Putra, Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains., (Yogyakarta: Diva Press, 2013), h.302.
[77]Nasution,  Didakti Asas-asas…, h. 611.

Komentar